Kamis, 07 Mei 2009
cinta smu
CERPEN : Cinta SMU
Rere murid kelas IIA,”SMU Harapan” yang memiliki bakat menyanyi, dan pandai bermain gitar sehingga Rere di kenal sebagai musisi di sekolah tersebut. Di tahun ajaran baru, Rere menunjukkan bakatnya untuk menarik perhatian semua murid di sekolah itu, khususnya Cewek Cantik. Rere pun dikenal sebagai Dewa Gombal yang memiliki jiwa periang juga ramah sehingga orang yang baru kenal langsung menyukainya.“Jeni adalah murid baru yang berkulit putih, rambut panjang, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, bibir merah, dan hidung mancung. Satu lagi “CANTIK” yang menarik banyak perhatian para cowok-cowok di sekolah tersebut. Rere mengagumi Jeni, Rere pun langsung menghampiri Jeni tapi baru 5 langkah, 3 cowok kelas III datang dan berkenalan dengannya sehingga Rere pun menarik Nafas dan menahan keinginannya untuk berkenalan dengan Jeni.Dua jam berlalu, Rere menahan keinginnya untuk berkenalan dengan Jeni, Bel pulangpun sudah berbunyi, Dari kejauhan Rere melihat Jeni dan tidak untuk menghampirinya karena banyak cowok yang antri ingin berkenalan degan Jeni. Rere pun menahan keinginan dan menahan angan-angannya terhadap Jeni.Keesokan harinya tepatnya pukul 05.00, Rere bangun tidur dan menyempatkan untuk sholat subuh sebelum ia pergi sekolah, setelah selesai sholat subuh Rere langsung pergi kesekolah tanpa mandi hanya sikat gigi dan cuci muka karena ada sesuatu yang diinginkan yakni melihat Jeni dan berkenalan dengannya.Ibu : Rere kamu sudah mandi belum? Tumben kamu cepat mandinya,”kata ibu”Rere : Aku belum mandi bu, tapi pagi ini dingin sekali akukan takut dengan dingin, kata Rere.Mendengar omongan itu ibu Rere memakluminya karena Rere punya penyakit yang sangat sensitive dengan suhu yang dingin. Sebelum berangkat kesekolah seperti biasanya ibu menyuguhkan Rere sarapan sup&susu hangat agar Rere tidak kedinginan&tetap fit.Ibu : Kalau begitu, kamu sarapan dulu agar tubuh kamu tetap fit.Rere: Thanks ya bu! Aku akan melahap ini semuanya.Ibu : Itu harus, karena ibu tidak mau kamu nanti……,ibu terdiam sejenak.Rere: Kenapa bu…sepertinya omongan ibu tadi tanggung deh.Ibu : Tidak, kalau tidak habiskan siapa yang mau makan, kan mubazir.Rere: Ya, nggak mungkinlah bu, Rere bukan anak kecil lagi.Ibu : Hmmmmmm…..“Setelah sarapan, Rere pun langsung bergegas untuk pergi kesekolah karena ada sesuatu yang diinginkan nya, Tepat pukul 06.00 kebiasaan yang dilakukan olehnya untuk pergi ke sekolah adalah pukul 06.45 tapi kali ini jauh lebih cepat.Rere : Bu, Rere pergi dulu ya?Ibu : Rere tunggu sebentarRere : Ada apa bu, mau tambah uang saku Rere ya!Ibu : Rere……Kamu harus pakai Jaket inikan masih subuh pastinya di luar dingin kamu kan gak bias terlalu dingin.Rere : Sekali lagi thanks ya bu? Bu, Rere pergi dulu ya? “Assalamualaikum”Ibu : “ Waalaikumsalam”Setibanya disekolah, ia melihat keadaannya masih sangat sepi sambil menunggu teman yang lainnya ia pun duduk di taman sekolah. Tidak lama kemudian Ia melihat Dewa teman sekelasnya sambil membawa gitar. “Wah……ini yang kun anti-nanti teman dan gitar”.Rere : Pagi Dewa…….Dewa: Pagi Re, tumben kamu cepat banget nyampaknya?Rere: Ya!aku hanya ingin menghirup udara pagi di sekolah ini. Sepertinya tahun ajaran ini lebih baik dari yang sebelumnya.Dewa: Benar tuch…apa lagi kita kedatangan murid baru yang dari ujung rambut sampai ujung kakinya pas banget….Rere: Apa….sekelas kita”Rere Terkejut”Dewa: Ya, emang kenapa” Kok kamu agresif buanget seh. Pa kamu suka ya ma anak tu,,,,Rere: Gak ah…emangnya Tanya aja ga’ boleh?Dewa: Tanya pa Tanya???Melihat tingkah dewa, Rere bertanya-tanya dalam hati dan mulai menyadarinya. “Apa aku suka dengan Jeni ya?, “Apa ini yang Namanya Cinta?dan Apa aku telah Jatuh Cinta? Lama kelamaan Melamun, Dewa menegur Rere.Dewa: Rere, tegur dewa. Namun Ia tetap diam.Melihat Rere tak menjawab, akhirnya Dewa memanggilnya dengan suara yang keras.”RERE……………..”Rere: Hah apaan sih,’sahut Rere’Dewa: Habis kamu aku panggil diam melulu seh, kamu menghayal ya….Rere: Hah, tidak. Aku belulm siap buat tugas yang disuruh oleh ketua OSIS, jadi aku rada-rada bingung.Dewa: Boleh aku Bantu?Seperti apa sih bingungnya?Rere: Tidak , tidak usah .Biar aku mengerjakan sendiri saja.Rere: Udah lah , “Sekarang aku mau main tu gitar,Boleh g’? Ya sambil menghilangkan suntuk.Dewa: Oh…ya aku vokalnya ya?Rere: Boleh…………Lagi asyik-asyiknya bersantai, tiba-tiba terlihat sesosok wanita berkulit putih, rambut panjang, dan cantik memasuki pintu gerbang sekolah. Dengan ramah dan senyum nya yang membuat perhatian banyak orang, Khususnya cowok-cowok yang jomblo dan para pacarnya takut akan pindah kelain hati. “Siapa lagi kalau bukan Jeni”Dewa: Kamu lihat yang itu Re???Rere: ……(Diam)Dewa: Rere”Nadanya kencang”Rere: Ya…ya aku melihatnya,dengan sedikit emosi .Dewa: Lihat tuch Re….,sapa dewaRere: Aduh ….tobatlah-tobatlah, malaikat telah mencatat amal burukmu,’candanya’Dewa: Ya….Ustadz apakah dosa ini dapat terhapus atau dimaafkan.Rere: Hanya tuhan yang tau, sekarang kita samperin tu cewek, selagi masih rada-rada sepi.Dewa: hmmmm, kurang asem lo…Selangkah demi selangkah mereka mendekati jeni yang lagi duduk sendiri di bawah pohon Cherry, sambil membaca novel.Dewa: Hai….,(agak gerogi), Boleh kenalan g’?Jeni : Hmmm, Boleh aja tuch(nadanya halus).”JENI”Dewa: “DEWA”Dewa: Senang berkenalan dengan kamu!Jeni: Oh ya…sama donk.Dewa: hah, kamu senang kenalan dengankuJeni: Emanya kenapa???Dewa: G’biasa aja lagi…oh ya kenalin ini temenqu, kami berdua sekelas.Jeni: Kelas berapa?Dewa: Kelas IIAJeni: Oh ya, sama donk.Detik-detik terakhir sesuatu yang diinginkan Rere akan berakhir.Rere: Nama aku RereJeni: Aku JeniDi dalam perkenalan tersebut terjadinya jabat tangan yang lama dan saling memandang, juga saling memberikan senyuman diantara keduanya. Kemudian…Dewa: Hei, lama banget seh…Rere: Sorrya JeniJeni: G’ apa-apa koq Re.Rere: Kamu pindahan dari mana?Jeni: Dari Medan dan asliku juga dari Medan , kalau kamu?Dewa: Wah Medan, aku juga pindahan dari sana dan asliku juga sama.Jeni: Sama donk….Tib-tiba terdengar suara panggilan yang menyerukan nama Dewa, yakni TIKA pacar Dewa yang memintanya untuk menemaninya breakfast in Canteen.Tika: Dewa, temenin aq makan donk.Dewa: Iya…ya sayang, yuk kita makan. Tinggal sebentar yach…Jeni: Kamu jadian ama tika ya….Dewa: Ya begitulah…Jeni: Hati-hati ya…Dewa: YOASemakin di tinggal Dewa, Rere semakin deg-degan dan terdiam terpaku.Jeni:Rere…Kamu kenapa kok tiba-tiba diam.Rere: Haaa..mmm, kamu….Jeni: Apaan seh…Rere: aaam ,,,eee,, enggak kamu?Jeni: Apaan seh Re, aku penasaran ne? ngomong apa, enggak apa-apa lagi.Rere: Tapi kamu mau engga, kamu marah enggakJeni: iiiih, kamu koq aneh gituRere: Aneh ya?Jeni: Enggak tau….ngomong donk Re…apaan sih(nada lembut)Mendengar kata-kata yang lembut dari Jeni, Rere pun jadi percaya diri walaupun dengan sedikit salah tingkah.Rere: Kamu senang g’ sekolah disiniJeni: Rere…Kamu Cuma Tanya gitu aja, pake gerogi segala.Rere: Enggak ah , sebenarnya aku mau Tanya kamu….kapan-kapan aja deh.Jeni: Kapan-kapan, terus ….aku Bantu ne.Rere: Kita, tapi kamu bisa g’Jeni: Ya ampun Re, entar kalau bisa/g’ nya juga aku bilang koq.Rere: Gitu ya….Jeni: G’ Tau..Melihat jeni yang sepertinya sedikit agak bosan akhirnya Rere benar-benar mengatakan yang sebenarnya…Rere: Jeni! Kamu mau g’ ntar hari senin nonton bareng aq, ya…sambil mengakrabkan perkenalan kita! Mau g’…Jeni: MMMM, Gimana ya? Tapi aku…aduh, nonton ya? (Nadanya kurang asyik)Rere:: Ya nonton, filmnya bagus loh DRAMA ROMANTIS judulnya BUTTERFLY. Kamu mau g’Jeni: Hari senin ya…gimana ya?Rere: G’ bisa ya, ya udah kalau kamu g’bisa g’pa2 koq.Jeni: Maaf ya Re, Aku sebenarnya akuRere: Kamu kenapa, pa g’dikasih ma ortu/ada janji sama pacar kamu ya?Jeni: Bukan, Maksud aku, aku….aku…Rere: Kenapa? Ngomong aja g’pa2 kok jen. Cepetan kenapa? Aku penasaran nih?Jeni: Sebenarnya aku, sebenarnya aku bercanda&mau koq.Rere: Apa, kamu serius neh, tapi tadi kamu koq kayak gimanya gitu!Jeni: Habis, kamu duluan sih gitu jadi aku g’ mau kalah donk.Rere: Tapi kamu seriuskan bisa?Jeni: Iya…iya, 2 rius lagi.Keakraban tak disangka-sangka sesuatu yang dianggap sulit dapat berubah menjadi mudah dan lancar baru saja berkenalan Rere&Jeni sudah sangat dekat seperti sudah kenal lama.Dalam Keakraban tersebut mereka tak menyadari kalu kelas-kelas dan halaman sekolah sudah dipenuhi murid-murid. Tak lama kemudian bel pun menyusul pertanda masuk kelas dan belajar.Jeni: Yah … Udah!g’ terasa ya cepat banget yuk, kita masuk yuk?Rere: E’eh tapi bentar dulu aku mau bilang satu lagi! Senang berkenalan dengan kamu.Jeni: ah kamu bisa aja re, kamu juga baik koq. Sepertinya kita cocok kok untuk terus akrab dan aku senang banget berkenalan dengan kamu.Rere: Oh, iya sudah masuk. Yuk kita masuk.Setelah masuk ke kelas semua teman-teman yang kelihatannya cukup akrab dengan jeni dan begitu juga jeni yang akrab dengan Rere. Teman-temannya ngeledekin dengan julukan “DEWA GOMBAL” dan Jeni tetap relax dan g’ marah , juga bersikap dewasa kalau temannya bercanda.Rere pantas diledekin karna bolak-balik ganti pacar itu karena setiap cewek yang di pacari selalu pergi seperti pindah-pindah tempat tinggal yang jauh, pindah sekolah, dan pergi untuk selama-lamanya, karena sakit semua itu bukan karena kebosanan di antara mereka/ pertengkaran , tapi karena cinta g’ selamanya indah
CERPEN : PerpisaHan Terindah
| Print Cerpen
Posting cerpen by: cosmic
Total cerpen di baca: 309
Total kata dlm cerpen: 1987
Tanggal cerpen diinput: Tue, 5 May 2009 Jam cerpen diinput: 12:54 PM
1 Komentar cerpen
“Nard, tungguin gw dunk” aku berlari kecil menghampirinya di halaman sekolah. “Beuh, gila u jam segini baru dateng”sahut Nard penuh ejek. Nard, ialah cowok yang menjadi tempat curhat aku, juga sohib cowok ku satu-satunya. Slain bisa jaga rahasia, dia juga asik kalo di ajak becanda, trus emang enak aja kalo di ajak ngobrol. Sebenernya dia temen SD aku, Cuma lebih deket aja waktu kelas 9 ini, soalnya kita sekelas. “Yeeeeh~ elo sendiri baru dateng jam segini!” ledek gw sambil tersenyum lebar. “Hahahaha, gw kan gak kayak u tiap hari.” Sahutnya sambil tertawa kecil. Salah satu alasan kenapa aku lebih deket sama dia yaitu karena aku suka sama dia. Tapi sayangnya, dia udah suka sama Fiona sejak kelas 6SD, udah hampir 4 tahun dia ngejar Fi. Inilah salah satu alasan juga kenapa aku berfikir gak ada harapan buat dapetin dia. “Mel, bengong aja u!” Suaranya membangunkaknku dari lamunan. “Pantesan setiap gw lewat depan rumah tetangga u, ayam-ayamnya pada mati! Pasti ini semua gara-gara ulah u. hahahaha”Ledeknya penuh tawa. “Hmmpph., sial u, hehe” jawabku sambil tersenyum. “Eh iya, u dah dapet fotonya Fi lagi gak?” “Lom, gw lagi males foto-foto ni” “oh” sahutnya kecewa terdengar dari nada suaranya yang turun. “eh iya, skalian u tanyain ya nomor hp nya yang aktif,soalnya gw telfonin dia gak nyambung mulu.” Ku anggukan kepala sambil berkata “Hmm, kapan-kapan”. “yah, koq kapan-kapan si?” sahutnya tambah kecewa. “Yee, dah bagus gw bantuin!” jawabku agak kesal. “Iya, iya sorry. Nanti kalo udah dapet nomor hp n foto-fotonya kasih tau gw ya!” “Sip Deh!” kataku sambil mengacungkan jempol pertanda setuju.@@@@@@@Bel pulangpun berbunyi. Aku melirik-lirik mencari teman yang akan ku ajak pulang bareng. Kemudian aku menghampiri sesosok cewek yang kulitnya hitam manis, wajahnyapun ikutan manis dan rambut sebahunya di kuncir kuda.“Lin, pulang bareng yuuuk” ”Yaaaah, sorry gw gak bisa. Soalnya gw ada kerja kelompok di rumahnya Lita” “Hmmm, ya udah deh. Gw pulang duluan yah!” sahutku agak kecewa. Lina itu sahabat cewekku yang rumahnya paling deket sama aku di banding sahabat lainnya, termasuk Nard. Lina juga tempatku mencurahkan isi hatiku. Dari situ, aku langsung bergegas pulang. Sesampainya di pangkalan angkot, aku melihati Fi sedang menunggu angkot bersama teman-temannya yang lain. Langsung saja ku hampiri dia dan berbasa basi lalu “Fi, gw minta numb hp u dunk? Kalo gw mw sms u kan jadinya gampang” pintaku sambil menyodorkan hp yang ku punya itu. “Oke” lalu ia pun mengetikkan nomor hp nya di hp ku. “Oh iya Fi, gw minta foto u juga dunk, bwt gw taruh di album foto tmen-tmen di fs gw” “Hmm, oke” setelah selesai kirim-kiriman foto menggunakan Bluetooth, angkot yang akan aku tumpangipun datang. “Fi, thanks ya. Gw duluan ya, angkot gw udah dateng” “Sip deh”. Akupun langsung menumpangi angkot tersebut.@@@@@@@Sesampainya di rumah, aku salin baju, makan, lalu sms Nard buat kasih info.To: NaRdNaRd, gw udh dpet fto n numb hp’y Fi nih…From: ImeLdaSelang 10 menit, hp ku melantunkan reff lagu Selamanya Cinta-d’Cinnamons. Ku buka inbox, lalu ku baca smsnya.To: ImeLdaW minta dunk…From: NaRdSetelah itu, langsung saja ku kirimkan foto dan numb hpnya. Tak lama kemudian ada sms yang masuk lagi.To: ImeLdaThx yuph!From: NaRdJujur saja, aku bahagia bisa membantunya mendapatkan Fi, karena hanya Fi yang dapat membuat dirinya bahagia. Walaupun hatiku perih dan sakit, namun aku rela menjalankan itu semua. Dan jika rasa ini tetap bertahan sampai perpisahan nanti, aku akan menyatakannya. Karena jika aku mengatakannya sekarang, justru hanya akan menambah beban bagi kami berdua. Karena akan mengganggu UAN dan jika aku ditolak, pasti aku akan malu banget kalau ketemu sama dia. Berhubung SMA yang akan kami masuki berbeda, aku cukup berani untuk menyatakannya.@@@@@@Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Akhirnya UAN pun tiba. Banyak anak-anak yang datang dengan muka lesu, dan ngantuk. Wajar saja, pasti banyak dari mereka yang bergadang semalaman untuk belajar UAN agar mereka bisa lulus. Namun banyak juga yang dengan tampang ceria, pd, dan bersemangat ingin menghadapi soal UAN, termasuk NaRd.@@@@@@ UAN, UAS, Ujian Praktek, sampai pengumuman kelulusanpun akhirnya usai.@@@@@@ Pagi yang indah, menyegarkan dan menyejukkan raga. Mataharipun baru bangun dari tidur semalam. Terlebih sangat tak terasa, bahwa hari ini aku dan anak-anak kelas 9 yang lain akan berpisah. Hari yang akan sangat mengembirakan, menyedihkan juga mengharukan. Tempat perpisahan kami yaitu di pantai carita. Jadi, kami akan menempuh sekitar 3jam perjalanan dari Tangerang. Sesampainya disana, aku dan teman-teman yang lain ikut bergembira ria. Main pasir, sembur-semburan air laut, foto-foto di tepi pantai, juga masih ada permainan-permainan yang diselenggarakan sekolah kami. Kami akan pulang jika hari sudah malam yang ditunjukkan oleh terbenamnya matahari ke dasar laut.@@@@@@ Ketika menit-menit matahari terbenam akan tiba, aku langsung mengajak NaRd untuk menjauh dari anak-anak yang lain, agar anak-anak yang lain tidak bisa mendengar apa yang akan aku katakana kepada NaRd. “Ada apa si MeL?” Tanyanya dengan muka penuh kebingungan sambil menyedot air kelapa yang tadi baru di belinya di pedagang kelapa tepi pantai. “Emmmmm,…. Gw…. Gw…. Gw maaaa… maau ngomong sesu….atu…samaa.. u!” ucapku penuh tergagap-gagap. “mau ngomong apa si? Kayaknya serius banget, santai aja kali” Ia menyedot air kelapa itu lagi dengan santai, sedangkan aku sedang tergagap-gagap, juga tergugup-gugup sekali disini. “Gw…., gw….” ‘Haduh ngomong kayak gini aja koq susah ya?’ pikirku dalam hati. Aku yakin sekali, kalau sekarang mukaku sudah merah seperti kepiting rebus. ‘ Duuh malu banget nih gw’ucapku lagi di dalam hati. “Elo kenapa? Ada yang luka ya?” Ia terlihat mulai cemas. “Hmmmm, kagak koq” “Terus kenapa? Bilang aja ma gw” sahutnya dengan suara yang mulai menyantai.“Gw suka sama u NaRd”Ia tersentak kaget, terlihat dari matanya yang mulai memandangi tempat lain tanpa mempedulikan aku yang berada di sini, dengan wajahnya yang mulai memerah. Sebelum ia sempat berkata-kata lagi, aku melanjutkan penjelasanku padanya.“Gw dah suka sama u sejak kelas 9 ini, sejak gw mulai becandain u, tapi gw gak minta u untuk jadi pacar gw kok, gw Cuma sekedar menyatakan perasaan gw ke u, biar u tau, kalo selama ini gw menyukai u. Karena gw tau, u hanya bisa mencintai Fi, jadi gw gak bisa berharap banyak sama u. And gw harap Nard, u gak membenci gw. Good Bye.”Aku berlari meninggalkannya yang masih tersentak kaget dengan ucapanku tadi. Juga berlari menjauhi teman-teman yang lain. Lalu aku duduk di atas pasir, di bawah pohon kelapa yang pendek dan cukup rindang daunnya sambil memandangi matahari terbenam sendirian.“Mel…”seorang cowok yang memanggilku itu langsung menghampiri aku yang sedang menikmati indahnya matahari terbenam.“Ada apa Nard?” mataku mengalihkan pemandangan, lalu memandang dirinya.“kenapa u bantuin gw untuk deket sama Fi?” “Karena gw mau melihat u bahagia Nard, walaupun itu bukan sama gw, walaupun itu kan membuat gw sakit, walaupun itu bikin hati gw terluka, namun asal gw melihat u bahagia, tentunya gw juga akan ngerasa bahagia. Dan gw ingin u tau, gw ngelakuin semua itu dengan rela, Nard” Tak terasa olehku, aku mengucap semua kata-kata itu sampai air bening yang lembut jatuh di pipiku. “Asal u tau mel, gw lebih mencintai u dari pada Fi” Ucapnya sambil menyeka air mata yang sudah membasahi pipiku. “Tapi kenapa Nard???... Padahal,, u udah mencintai Fi sampai 4 tahun!! 4 tahun Nard!! 4tahun!! Itu waktu yang gak lama buat ngelupai dia,, Nard” ucapku tersedu-sedu sambil menatap kedua bola matanya bergantian. “Karena gw lebih mencintai orang yang mencintai gw dengan tulus juga rela berkorban, dari pada mencintai orang yang sebatas hanya gw kagumi. Sebenernya, selama 1,5 tahun ini, gw udah mulai ngelupain dia, karena gw tau, cinta gw takkan bisa terbalaskan dan kan selalu sia-sia. Hati gw udah gak sanggup buat mencintai dia, tapi pikirian gw belom berhenti mikirin dia. Jadi jauh sebelum hari ini, gw udah mutusin, kalau gw hanya sebatas mengagumi pesonanya aja.”jelasnya padaku panjang lebar sambil mengelus rambutku. “Jadi, setelah u ngedenger semua tadi, apa u mau jadi pacar gw??” “Hmm, gimana ya?? Iya, enggak, iya, enggak, iya enggak ya??”sahutku dengan muka tersenyum-senyum sambil memperhitungkannya dengan jari tangan bermaksud menjahilinya. “Yaah, masa masih di perhitungin lagi si?? Tadi kan u dah bilang suka sama gw” ucapnya dengan muka yang cemberut.“Hmm, iya deh iya, gw mau jadi cewe u”DDDDUUUUUUARRRRRRRRRRRRSuara kembang api seakan mengganggu moment penting di antara kami berdua.“Apa meL?? Tadi u ngomong apa? Gak kedengeran nih” terdengar dari suaranya jika ia sangat mengharapkanku untuk mengulang kembali ucapan yang tadi.“Gak mau ah”“yaaaah, koq gitu si? Ulangin lagi donk meL, Please…””Iya iya, yang tadi gw cuma becanda koq, gw mau koq jadi cewek u, karena u lah satu-satunya orang yang ada di hati gw, dan gw ingin, perasaan ini akan tetap ada sampai batas yang tak ditentukan nanti” “thanks meL, gabung sama yang lain yuk” “Yuk” Lalu kami bergabung dengan yang lain untuk memasang kembang api. Di tengah-tengah keceriaanku, tiba-tiba Nard berkata dengan suara yang sangat kencang.“Temen-temen, minta perhatiannya donk” Seketika itu juga, semua teman-teman kami seperti membentuk lingkaran, dan tersisalah kami berdua di dalam lingkaran itu. Lalu Nard melanjutkan lagi, “Gw mau ngumumin, kalo sekarang gw sama ImeL udah jadian. Minta doa restunya ya, supaya hubungan kami langgeng” seketika itu juga, suasana yang sebelumnya meriah menjadi semakin meriah dengan adanya pengumuman dari Nard. Dan saat itu juga, muka kami berdua kembali memerah seperti kepiting rebus.@@@@@@@Perpisahanpun selesai, semuanya naik ke bus untuk kembali pulang ke tangerang. Dengan begitu, perpisahan itu menjadi perpisahan SMP yang paling berkesan bagi Nardaolus Fransiskus dan ImeLda Cantika Putri. Terpaan sinar matahari,,Membuat diriku tuk selalu tegar dalam kepahitan hidup..Mengajarkanku akan cerahnya kehidupan…Memberiku kenyataan, bahwa ia akan selalu bertahan,,Bertahan dalam kesunyian dan kesepian…Dalam malam yang takkan pernah terganti…Kehampaan, kekosongan, dan kegelapan…Seolah menjadi kebiasaan rutin yang kan selalu di jalani…Bintangpun ikut serta dalam mengisi kegelapan,,Namun berkebalikkan dengan matahari..Memberi pembagian jatah tampil yang rata,,Merupakan siasat mereka,, Untuk menyinari alam semesta yang selalu gelap…Hari-haripun di jalankan dengan kesetiaan yang tak kunjung padam…Pengabdian tuk selalu memancarkan cahaya,,Untuk mereka yang mengalami kegelapan…Memberi pelajaran dalam hidup yang takkan bisa tergantikan,,Tuk bisa selalu menjadi bintang dan matahari,,Yang penuh abdi dan kesetiaan… Dan aku ingin, cinta kami berdua kan abadi dan penuh kesetiaan, seperti matahari dan bintang ynag penuh abdi dan kesetiaan, untuk menyinari alam semesta yang selalu gelap
CERPEN : CERPEN ROMANTIS
| Print Cerpen
Posting cerpen by: Admin
Total cerpen di baca: 1449
Total kata dlm cerpen: 903
Tanggal cerpen diinput: Sat, 15 Nov 2008 Jam cerpen diinput: 4:05 AM
1 Komentar cerpen
Disclaimer: Postingan panjang. Harap bersiap-siap meluangkan waktu untuk cerita pendek ini…Cerita ini merupakan kisah nyata seorang tante yang saya temui di Bali, tetapi detail yang saya sebutkan mungkin tidak sesuai dengan kisah aslinya. Saya menuliskan apa yang saya tangkap dari yang diceritakan tante. Sebut saja Ami (bukan nama sebenarnya). Tante Ami bercerita mengenai pengalaman hidupnya ketika masa kuliah.Sekitar dua puluh tahun yang lalu, Ami sedang menjalankan semester terakhir dan berusaha menyelesaikan skripsi. Disaat itu pula, 2 minggu yang akan datang, Ami akan dipersunting oleh seorang pria yang bernama Iman (bukan nama sebenarnya).Ami dan Iman telah berpacaran selama 7 tahun. Iman merupakan teman SD Ami. Mereka telah kenal selama 14 tahun. Masa 7 tahun adalah masa pertemanan, dan kemudian dilanjutkan ke masa pacaran. Mereka bahkan telah bertunangan dan 2 minggu ke depan, Ami dan Iman akan melangsungkan ijab kabul.Entah mimpi apa semalam, tiba-tiba Ami dikejutkan oleh suatu berita.Adiknya Iman: Mbak Ami, Mbak Ami. Mas Iman…Mas Iman….kena musibah! Ami: Innalillahi wa inna illahi roji’un…Saat itu Ami tidak mengetahui musibah apa yang menimpa Iman. Kemudian sang adik melanjutkan beritanya…Adiknya Iman: Mas Iman…kecelakaan…dan..meninggal… Ami: Innalillahi wa inna illahi roji’un……dan Ami kemudian pingsan…Setelah bangun, Ami dihadapkan oleh mayat tunangannya. Ami yang shock berat tak bisa berkata apa-apa. Bahkan tidak ada air mata yang mengalir.Ketika memandikan jenazahnya, Amit terdiam. Ami memeluk tubuh Iman yang sudah dingin dengan begitu erat dan tak mau melepaskannya hingga akhirnya orang tua Iman mencoba meminta Ami agar tabah menghadapi semua ini.Setelah dikuburkan, Ami tetap terdiam. Ia berdoa khusyuk di depan kuburan Iman.Sampai seminggu ke depan, Ami tak punya nafsu makan. Ia hanya makan sedikit. Ia pun tak banyak bicara. Menangis pun tidak. Skripsinya terlantar begitu saja. Orangtua Ami pun semakin cemas melihat sikap anaknya tersebut.Akhirnya bapaknya Ami memarahi Ami. Sang bapak sengaja menekan anak tersebut supaya ia mengeluarkan air mata. Tentu berat bagi Ami kehilangan orang yang dicintainya, tapi tidak mengeluarkan air mata sama sekali. Rasanya beban Ami belum dikeluarkan.Setelah dimarahi oleh bapaknya, barulah Ami menangis. Tumpahlah semua kesedihan hatinya. Setidaknya, satu beban telah berkurang.…tiga bulan kemudian…Skripsi Ami belum juga kelar. Orangtuanya pun tidak mengharap banyak karena sangat mengerti keadaan Ami. Sepeninggal Iman, Ami masih terus meratapi dan merasa Iman hanya pergi jauh. Nanti juga kembali, pikirnya.Di dalam wajah sendunya, tiba-tiba ada seorang pria yang tertarik melihat Ami. Satria namanya (bukan nama sebenarnya). Ia tertarik dengan paras Ami yang manis dan pendiam. Satria pun mencoba mencaritahu tentang Ami dan ia mendengar kisah Ami lengkap dari teman-temannya.Setelah mendapatkan berbagai informasi tentang Ami, ia coba mendekati Ami. Ami yang hatinya sudah beku, tidak peduli akan kehadiran Satria. Beberapa kali ajakan Satria tidak direspon olehnya.Satria pun pantang menyerah, sampai akhirnya Ami sedikit luluh. Ami pun mengajak Satria ke kuburan Iman. Disana Ami meminta Satria minta ijin kepada Iman untuk berhubungan dengan Ami. Satria yang begitu menyayangi Ami menuruti keinginan perempuan itu. Ia pun berdoa serta minta ijin kepada kuburan Iman.Masa pacaran Ami dan Satria begitu unik. Setiap ingin pergi berdua, mereka selalu mampir ke kuburan Iman untuk minta ijin dan memberitahu bahwa hari ini mereka akan pergi kemana. Hal itu terus terjadi berulang-ulang. Tampaknya sampai kapanpun posisi Iman di hati Ami tidak ada yang menggeser. Tetapi Satria pun sangat mengerti hal itu dan tetap rela bersanding disisi Ami, walaupun sebagai orang kedua dihati Ami.Setahun sudah masa pacaran mereka. Skripsi Ami sudah selesai enam bulan yang lalu dan ia lulus dengan nilai baik. Satria pun memutuskan untuk melamar Ami.Sebelum melamar Ami, Satria mengunjungi kuburan Iman sendirian. Ini sudah menjadi ritual bagi dirinya. Disana ia mengobrol dengan batu nisan tersebut, membacakan yasin, sekaligus minta ijin untuk melamar Ami. Setelah itu Satria pulang, dan malamnya ia melamar Ami.Ami tentu saja senang. Tapi tetap saja, di hati Ami masih terkenang sosok Iman. Ami menceritakan bagaimana perasaannya ke Satria dan bagaimana posisi Iman dihatinya. Satria menerima semua itu dengan lapang dada. Baginya, Ami adalah prioritas utamanya. Apapun keinginan Ami, ia akan menuruti semua itu, asalkan Ami bahagia.Ami pun akhirnya menerima lamaran Satria.…beberapa bulan setelah menikah…Di rumah yang damai, terpampang foto perkawinan Ami dan Satria. Tak jauh dari foto tersebut, ada foto perkawinan Ami ukuran 4R. Foto perkawinan biasa, namun ada yang janggal. Di foto tersebut terpampang wajah Ami dan Iman.Ya, Ami yang masih terus mencintai Iman mengganti foto pasangan disebelahnya dengan wajah Iman. Foto itupun terletak tak jauh dari foto perkawinan Satria dan Ami. Sekilas terlihat foto tersebut hasil rekayasa yang dibuat oleh Ami. Namun Satria mengijinkan Ami meletakkan foto tersebut tak jauh dari foto perkawinan mereka.Bagaimanapun Ami tetap akan mencintai Iman sekaligus mencintai Satria, suami tercintanya. Dan Satria merupakan pria yang memiliki hati sejati. Baginya, cinta sejatinya adalah Ami. Apapun yang Ami lakukan, ia berusaha menerima semua keadaan itu. Baginya tak ada yang perlu dicemburui dari batu nisan. Ia tetap menjalankan rumah tangganya dengan sakinah, mawaddah dan warramah, hingga saat ini…Mendengar cerita diatas, terus terang saya merasa sedih, terharu, sekaligus miris. Saya kagum dengan sosok Satria yang ternyata benar-benar mencintai Tante Ami. Saya juga mengerti kepedihan Tante Ami ketika ditinggalkan tunangannya. Tentu rasanya sulit ditinggalkan oleh orang yang sudah membekas dihati.Akankah ada pria-pria seperti Satria? Saya harap semoga banyak pria yang akan tetap setia kepada seorang wanita, menerima mereka apa adanya
Dilarang jatuh cinta
Cerpen Maroeli Simbolon, Dimuat di Republika 12/19/2004Wah! Semua mata terbelalak -- berpusat kepada laki-laki yang berdiri persis di atas atap gedung berlantai 33, siap untuk bunuh diri. Sejumlah polisi sibuk mengamankan lokasi yang dipenuhi orang-orang yang ingin menyaksikan peristiwa tragis itu secara langsung, dengan berbagai ekspresi yang tak kalah seru. Ada yang bergidik, ada yang terbelalak histeris, ada juga yang terkagum-kagum. Situasi heboh itu melumpuhkan lalulintas. Beberapa polisi sibuk berdebat dan stres -- mencari solusi bagaimana mencegah orang sableng itu agar tidak mewujudkan kegilaannya. Ada juga polisi yang langsung menghubungi pihak rumah sakit untuk segera mengirimkan ambulans. Mengapa ada yang ingin bunuh diri?Silakan tanya kepada para penduduk di sebuah negeri yang sedang dilanda cinta, atau kepada seorang laki-laki muda yang tampan, yang kini berdiri gagah dan tenang di bibir gedung pencakar langit, dan siap terjun bebas. Padahal, embun masih terjun ke bawah ketika polisi yang memanjat baru mencapai setengah gedung. Orang-orang pun berteriak histeris. Dan, lihatlah, seperti tubuh yang bunuh diri pertama, wanita itu juga melayang-layang ke bawah. Dari tubuhnya, satu per satu tumbuh bunga-bunga yang mekar. Dan, begitu tiba di tanah, tubuhnya telah menjelma sebatang pohon bunga beraneka rupa. Di pucuk bunga terselip kertas yang bertulis, ''Kubuktikan cinta dengan kepasrahan!'' Belum habis keterkejutan orang-orang, kembali terdengar teriakan seseorang, ''Lihat! Di atas gedung bertingkar 52 sana juga ada yang hendak bunuh diri!''Semua terperangah, berteriak ngeri. ''Kegilaan apa lagi ini?!''''Lihat! Di gedung 67 tingkat itu juga!''''Lihat! Di gedung warna kelabu ungu bertingkat 73 itu juga!''''Lihat! Di atas menara pahlawan itu juga!'' Semua menggigil seputih kapas di ujung ilalang. Bahkan angin pun beringsut ketakutan. Sebab, hari itu lebih sepuluh orang melakukan bunuh diri dengan cara yang sama (melompat dari atas gedung bertingkat) dan motif yang sama atau hampir sama. Mungkinkah cinta yang menciptakan semua tragedi yang mencemaskan ini? Peristiwa itu mencengangkan semua orang, sekaligus menimbulkan rasa takut dan khawatir yang hebat. Dan peristiwa ini menjadi topik utama di mana-mana, dari kedai kopi, kafe hingga hotel berbintang, terutama menjadi headline koran-koran terkemuka. Berbagai kalangan pengamat memberi komentar dan tanggapan, dari psikolog hingga pengamat sepakbola. Ternyata, hari demi hari, peristiwa bunuh diri itu tiada henti, terus-menerus terjadi. Sehingga, semakin panjang daftar orang yang mati bunuh diri dengan melompat dari atas gedung. Bahkan menjadi ancaman, melebihi wabah penyakit menular. Bunuh diri itu sudah melanda semua orang, dari jompo hingga anak-anak, dengan teknik yang semakin aneh. Sableng bin edan! Ada yang berpakaian Pangeran, Ratu, Pendekar, Batman, Superman. Ada yang bersalto, jumpalitan di udara, berselancar. Ada pula yang terjun sambil baca puisi. Penduduk negeri itu semakin dicekam rasa takut dan waswas yang luar biasa. Semua mengkhawatirkan sanak keluarganya dan dirinya akan ikut bunuh diri suatu waktu. Sebab, penyakit bunuh diri itu dengan cepat menyebar dan menjangkiti siapa saja. ''Bila tidak segera dihentikan, anak-anak kita, saudara kita, bahkan kita sendiri akan terpengaruh, dan melakukan tindakan bunuh diri itu.''''Ya. Ini harus kita hentikan!''''Bagaimana caranya? Adakah cara jitu yang kamu pikirkan?'' ''Ah. Ayo, kalangan intelektual, berpikir dan bertindaklah segera. Jangan cuma ngoceh ke sana ke mari!'' teriak orang-orang, kehilangan arah.Penduduk semakin panik, saling bertanya satu sama lain. Tetapi, semua menggeleng. Semua angkat bahu. Semua jadi buntu jadi batu. Apa lagi yang dapat dilakukan? Maka, tanpa dikomando, semua tekun berdoa dan samadi agar wabah penyakit bunuh diri itu segera berakhir. Sayangnya, ketika doa-doa meluncur di udara, burung-burung gagak berebutan menyerbu dan mencabik-cabiknya sehingga tidak pernah sampai di meja kerja Tuhan. Jika pun ada yang sampai, cuma berupa sisa atau percah. Tentu Tuhan tidak sudi mendengarnya. Apalagi Tuhan semakin sibuk menata surga -- sambil mendengarkan musik klasik -- karena kiamat sudah dekat. Disengat kepasrahan yang mencekam itu, tiba-tiba Maharaja menemukan gagasan, ''Kita bikin pengumuman!'' teriaknya pasti.Seketika semua melongong. ''Pengumuman? Untuk apa?''''Di setiap tempat, kita buat pengumuman: Dilarang Jatuh Cinta!''Semua kurang menanggapi. ''Apakah mungkin efektif untuk mengatasi maut yang mengancam di depan mata kita?'' Maharaja angkat bahu. ''Coba dulu, baru tahu hasilnya,'' jawab Maharaja. ''Masalah utamanya sudah jelas, akibat cinta. Setiap orang yang terjerat cinta, entah mengapa jadi ingin bunuh diri. Satu-satunya cara, ya, kita larang orang-orang jatuh cinta. Siapa pun tak boleh jatuh cinta agar hidup terjamin.'' ''Wah, mana mungkin. Jatuh cinta itu manusiawi. Beradab dan berbudaya. Berasal dari hati. Kata hati. Muncul begitu saja -- tanpa diundang. Apalagi, cinta kan pemberian Tuhan,'' protes orang-orang, tak dapat menerima pendapat Maharaja yang dinilai ngawur. ''Terserah. Jika ingin selamat, menjauhlah dari cinta. Kalian jangan pernah jatuh cinta. Mengerti?! Tetapi jika sudah bosan hidup, ya, silakan jatuh cinta!'' tegas Maharaja. ''Sekarang, mari kita pasang pengumuman itu sebanyak-banyaknya dan sebesar-besarnya!'' Meski dijerat tali ketidakmengertian yang luar biasa, pengumuman akhirnya dibuat juga. Dipancangkan dan ditempelkan di mana-mana, termasuk di bandara. Maharaja bahkan melakukan siaran langsung di seluruh televisi: ''Saudara-saudari sekalian yang saya benci. Sebab, mulai sekarang, saya tak ingin mencintai, agar berumur panjang. Saya harus benar-benar dipenuhi kebencian. Seperti kita saksikan bersama-sama, cinta telah menyebabkan banyak orang bunuh diri. Cinta telah membutakan mata. Cinta telah merenggut nyawa sanak keluarga kita. Cinta mengancam kita. Maka, dengan ini, kepada semua yang mendengarkan pengumuman ini, saya tegaskan: dilarang jatuh cinta! Kita harus melawan cinta. Kita tegas-tegas menolak cinta. Cinta tidak memberi apa-apa yang berharga bagi kita, cuma kematian. Mengerikan, bukan? Mulai sekarang, kita proklamirkan semboyan baru kita: hidup sehat tanpa cinta. Hiduplah dengan saling membenci, bercuriga, menghasut, dan sebagainya. Jangan pernah mencintai!'' Aneh. Penduduk bertepuk sorak menyambut pengumuman itu. Bahkan, untuk selanjutnya, banyak yang memuji kebijaksanaan Maharaja sebagai sikap brilian. Mereka merasa telah menemukan solusi jitu memberantas wabah penyakit bunuh diri itu. Hidup tanpa cinta, tidak terlalu buruk demi hari depan yang lebih baik. Dengan saling membenci, esok yang lebih cerah dan terjamin siapa tahu segera tercapai. Hari masih terlalu subuh. Ayam dan burung-burung masih ngorok. Tetapi keributan orang-orang dan kesibukan polisi telah merobek cadar ketenangan. Apalagi wartawan-wartawan sibuk meliput dan melaporkan -- blizt dan lampu kamera televisi berpantulan. Apa yang sedang terjadi. Wah. Sungguh mengejutkan dan mencengangkan! Betapa tidak, di depan gedung istana Maharaja berlantai 113 yang mencuat menusuk langit kelam, Maharaja dengan masih memakai piyama sedang berdiri di atasnya bersiap-siap bunuh diri. Orang-orang menahan napas dan terbelalak ngeri menyaksikan tragedi ini. Sementara, istrinya, Maharani menyorot api kebencian, ''Biarkan ia menikmati kesempurnaan cintanya!'' Maharaja mengembangkan tangan. ''Ah. Ternyata cinta itu indah. Kita tak dapat hidup tanpa cinta. Cinta itu anugerah. Berdosalah orang-orang yang tak memiliki cinta!'' teriak Maharaja, lalu melompat ke bawah. Tubuhnya melayang dan ditumbuhi bunga-bunga mekar. Tiba-tiba menyusul sesosok tubuh wanita muda yang sintal, melompat sembari bersenandung lagu cinta. Tubuhnya juga melayang, seperti menari -- dan ditumbuhi bunga-bunga mekar. Begitu tiba di tanah, bunga-bunga itu pelahan merambat dan menyatu, lalu membesar dan menjadi belukar yang menjalari dinding-dinding istana dan rumah tangga-rumah tangga. Semua melotot heran. ''Mengapa Maharaja bisa segila itu?''''Selingkuh. Ia selingkuh dengan sekretarisnya!'' cibir Maharani sambil meludah ke tengah belukar itu. Akibat ludah itu, tiba-tiba belukar itu bergerak-gerak liar sepenuh nafsu kelabu, membelit kedua kaki Maharani, dan menariknya, ''Cintakah?!'' Jakarta, 2003/2004
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar